Oleh : Feni Oktavera

Pneumoconiosis atau dikenal ” blacklung disease” merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh debu batu bara. Partikel debu halus batu bara yang masuk ke dalam sistem pernafasan setiap hari dalam jangka waktu bertahun-tahun akan mengendap di dalam paru-paru sehingga menyebabkan penyakit paru hitam

Saat ini, ratusan buruh perempuan pemilah batu bara bekerja di stockpile batu bara di Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu. Para buruh hanya memakai masker sederhana dan selendang sebagai penutup hidung yang sesungguhnya tidak layak untuk membendung debu masuk ke saluran pernafasannya. Dengan standar kesehatan dan keamanan kerja (K3) yang sangat lemah baik dari sisi aturan maupun pengawasannya, resiko kesehatan yang harus ditanggung teramat besar.

Selain penyakit ini, menghisap debu batubara dan akumulasinya dalam paru-paru juga meningkatkan resiko menderita bronkitis kronis serta penyakit paru obstruktif kronis, bahkan kanker paru. Dengan pendapatannya yang sudah di bawah upah minimum, bisakah kita bayangkan perempuan-perempuan ini harus menabung untuk membiayai resiko kesehatan

Di sisi lain, satu juta ton batu bara akan dibakar per tahun bila Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara beroperasi di Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu. Proyek PLTU yang masih dalam tahap konstruksi itu ditargetkan beroperasi pada 2019. Bila PLTU berkapasitas 2 x 100 MW itu beroperasi sebanyak 2.900 ton batu bara akan dibakar per hari. Dampaknya jelas, polusi udara menghantui masyarakat di wilayah Kota Bengkulu.

Pembakaran batu bara akan mencemari udara dengan polutan yang mengandung SO2, NOx dan PM 2,5 ditambah hujan asam, emisi logam berat seperti merkuri, arsenik, nikel, kromium dan timbal. Akibatnya, rakyat akan terpapar polusi yang dapat memicu penyakit stroke, jantung insemik, kanker paru-paru, paru obstuktif kronik, dan lain karena penyakit pernafasan dan kardiovaskular.

Kondisi ini melatarbelakangi kelompok masyarakat sipil yang diinisiasi Kanopi membentuk Aliansi Tolak Paru Hitam pada Rabu (17/1) di Kantor Kanopi Bengkulu. Aliansi terdiri dari bermacam latar belakang seperti mahasiswa Politeknik Kesehatan, Pecinta Alam Mahesapala, Tim Bantuan Medis (TBM) Fakultas Kedokteran Universitas Bengkulu, Hima Biologi FKIP Unib, Sustainable Development Goals (SDGs) Centre Universities Bengkulu, Yayasan Pupa dan Women Crisis Center (WCC) Cahaya Perempuan. Kegiatan yang digagas aliansi akan fokus pada penyadartahuan masyarakat tentang dampak buruk pengembangan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik.

Sejumlah aksi yang akan dilakukan bersama-sama untuk mengkampanyekan cegah paru hitam yakni :

  1. Penyuluhan dan pemutaran film bagi ibu-ibu dan warga di Kelurahan Teluk Sepang tentang bahaya dan antisipasi dini paru-paru hitam. Penyuluhan dan diskusi ini akan difasilitasi Tim Bantuan Medis Universitas Bengkulu dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Poltekkes Kemenkes.
  2. Menggelar aksi publik penyebaran lembar informasi tentang paru-paru hitam dan pemicunya yang akan digelar di tiga titik yakni Simpang Lima Kota Bengkulu, Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kantor Pemprov Bengkulu. Aksi ini akan dilakukan bersama seluruh anggota Aliansi Tolak Paru Hitam.