Ratusan peserta dari berbagai elemen berpartisipasi dalam dialog publik yang diselenggarakan oleh Koalisi Langit Biru, gabungan dari organisasi mayarakat sipil, mahasiswa dan kepemudaan pada selasa (15/09) yang mengangkat tema “Indonesia Darurat, Masyarakat Melarat; Dimana Kawanku?” bersama narasumber Haris Azhar Direktur Lokataru, Titik Kartika Akademisi UNIB, Melyan Sori PUSKAKI Bengkulu, MA Prihatno Azzam Community dan Fauzan Hanif Presma UNIB serta dipandu oleh moderator Pramasty Ayu Koesdinar.

Dalam pengantar yang disampaikan oleh perwakilan Koalisi Langit Biru, Ali Akbar menceritakan kondisi kemelaratan dan ketertindasan rakyar Bengkulu mulai dari Kabupaten Mukomuko sampai Kaur.

“Bagaimana kaum perempuan di pinggir perkebunan sawit skala besar yang harus berunjuk rasa untuk mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kerja harian. Para petani di Desa Talang Arah berjuang mempertahankan lahan garapan dari penyerobotan paksa perusahaan perkebunan,” Kata Ali.

Ditambah lagi di Bengkulu Utara, rakyat kehilangan lahan persawahan yang tertimbun karena sumber air telah dikeruk oleh perusahaan batu bara seperti yang dialami oleh warga Desa Pondok Bakil.

Lalu bagaimana perlawanan rakyat kota Bengkulu menghentikan proyek PLTU batu bara Teluk Sepang yang sudah jelas meracuni udara dan pembakaran batu bara secara nyata menjadi penyumbang utama krisis iklim di planet bumi.

Bergerak ke wilayah selatan, warga Rawah Indah yang jelas memiliki sertifikat yang diterbitkan negara harus tergusur oleh perluasan perkebunan sawit PT Agri Andalas. Di Kaur warga berjuang melawan perusahaan tambang biji pasir besi PT. Selomoro Banyu Arto yang sudah menyebabkan abrasi dan mengancam pemukiman warga.

Kondisi yang dialami rakyat dihampir seluruh wilayah Bengkulu inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya dialog publik ini.

Melihat kondisi ini, Hariz Azhar Direktur Lokataru mengatakan rakyat sudah tidak bisa menunggu dan mengandalkan negara, pemerintah serta otoritas-otoritas tertentu karena sudah terjebak dalam sistim oligarki kapitalisme, otoritarianisme dan sistim balik modal. “Kita harus bergerak melakukan pemulihan melalui konsep solidaritas yang mengedepankan prinsip dan nilai,” katanya.

Melyan Sori dari Puskaki Bengkulu mencontohkan kedaruratan Indonesia saat ini melalui parahnya prilaku korup di birokrasi hingga praktik politik transaksional. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan seringkali berpihak kepada oligarki dan bertentangan dengan kehendak rakyat.

“Di era sekarang ini, korupsi yang terbuka didepan mata menyatakan bahwa Indonesia darurat akan keadilan dan menuju kepada kegagalan dalam bernegara” katanya

Karena itu, aktivis anti korupsi mengajak masyarakat mewaspadai dan tidak memilih calon kepala daerah yang didanai cukong.

M. Fauzan Hanif PRESMA UNIB, menilai aspirasi rakyat sudah disuarakan dijalanan mulai dari penolakan RUU KPK, UU Minerba namun penolakan tersebut tidak digubris, justru UU tersebut disahkan.

Menurutnya sudah saatnya membangun koalisi besar, hilangkan faksi-faksi. Tidak ada yang lebih penting selain bersatu untuk menyelamatkan indonesia dari kepungan Oligarki.

Sedangkan menurut MA Prihatno ketua Azzam Community, mahasiswa menjadi kelompok yang paling strategis dalam menyuarakan kemelaratan rakyat karena kelompok ini masih dianggap independen dan bebas kepentingan politik. Namun dibutuhkan satu isu bersama yang harus dilawan seperti oligarki atau otoritarianisme.

“Dalam sebuah perjuangan, pilihan ada ditangan kita. Apakah kita masuk dalam kategori kelas sedekah, pengorbanan atau menyerahkan apa yang paling kita cintai yaitu “hati” kepada rakyat,” Katanya.

Titik Kartika Akademisi Universitas Bengkulu yang juga aktivis perempuan mengatakan bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan juga kian lama kian memprihatinkan. “Kekuatan kapitalis berjaya karena bisa membungkam rakyat,” katanya.

Menurutnya, ketika berbicara Indonesia darurat, masyarakat melarat, dimana kawanku? Ia dengan tegas mengatakan kita semua, sehingga penting membangun solidaritas dan memperkuat konsolidasi untuk menuju perubahan sosial.