Dua orang staf kajian dan kampanye Kanopi Bengkulu, Feni Oktavera dan Olan Sahayu berkesempatan diundang oleh Redaksi TVRI Bengkulu membahas ancaman paru-paru vitam bagi pekerja ibu-ibu pemilah batu bara di Pelabuhan Pulau Baai, Kota Bengkulu. Data Kanopi yang menginisiasi pembentukan Aliansi Tolak Paru Hitam menyebutkan ada 150 orang pekerja perempuan pemilah batu bara di area penumpukan “stockpile” batu bara Pulau Baai yang setiap hari bekerja di wilayah itu.

Alat pengaman diri yang seadanya berupa masker kain bahkan serbet penutup hudung menjadi annalan para pekerja untuk menghalau debu. Tentu saja upaya ini akan sia-sia sebab debu batu bara yang tidak kasat mata akan menembus masker kain dan masuk ke dalam tubuh melalui hidung dan mulut.

Selain bahaya paru-paru hitam, dialog juga berlanjut membahas bahaya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang akan didirikan oleh investor asal China di Kelurahan Teluk Sepang.

Bahaya PLTU batu bara lebih dominan pada pencemaran udara, air dan tanah yang akan ditimbulkan limbah PLTU tersebut. Polutan pembakaran batu bara untuk menghasilkan uap pemutar turbin diketahui mengandung berbagai macam polutan dan senyawa kimia berbahaya yang akan maracuni udara yang dihirup manusia.

Karena itu, Kanopi Bengkulu bersama Aliansi Paru Hitam mendesak pemerintah menghentikan seluruh rencana investasi energi kotor dan beralih mengembangkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.