Deli Lesyanti yang akrab dipanggil Deli, seorang perempuan petani Desa Sibak Kecamatan Ipuh Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu terancam keguguran kedua kalinya.

Perempuan petani korban konflik agraria antara masyarakat dengan PT Daria Dharma Pratama di Mukomuko ini mengalami keguguran pertama kali pada Januari 2024 saat kandungan berusia 3 bulan. Ia stres setelah ditetapkan tersangka penganiayaan oleh kepolisian.

Kisah Deli bermula pada 12 September 2023 sekitar jam 09.00 WIB saat ia seorang diri sedang menyaksikan karyawan PT DDP memanen buah sawit di lahan garapan petani di Jalan Air Sulek Desa Serami Baru Kecamatan Malin Deman yang masih menjadi sengketa antara kelompok petani Tanjung Sakti dengan PT DDP.

Saat ia berdiri di depan mobil pengangkut buah, ia dihampiri dua perempuan buruh PT DDP yaitu L dan  R. Saat Deli sedang memainkan telepon selulernya kedua perempuan itu mulai mendorong agar Deli menyingkir dari depan mobil. Kemudian, tiba-tiba rombongan ibu-ibu berjumlah 7 orang lainnya mendekati Deli, sehingga total 9 orang perempuan yang menghampirinya.

“Mereka ibu-ibu karyawan PT DDP lalu memegang tubuh saya bagian kanan dan kiri. Ada yang memukul saya dari bagian belakang. Ketika saya berusaha melepaskan diri dari pengeroyokan, tanpa sengaja hp saya mengenai Bu L di bagian kepala sehingga bengkak. Selanjutnya mereka pun pergi,’’ tutur Deli.

Deli menegaskan, setelah pengeroyokan itu, badannya sakit selama dua hari. Dua hari berselang setelah kejadian, pihak kepolisian justru menetapkan Deli sebagai tersangka penganiayaan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 351 Undang Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang Undang Hukum Pidana.

Kasus yang dialami Deli sudah dilaporkan pada 3 Mei 2024 kepada Komnas Perempuan dan Anak (KPA), atas dasar pengaduan untuk mendapat perlindungan hukum dan keadilan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan secara fisik dalam memperjuangkan haknya atas ruang hidup.

Saat ini, kasus Deli telah menjadi sorotan KPA dan telah terdaftar di Unit Pengaduan untuk Rujukan (UPR) dengan ID pengaduan: 0071_310524_WA_Deli Lisyanti.

’Saat ini Komnas Perempuan dan Anak sedang dalam proses pendokumentasian kasus. Selanjutnya kami akan berdiskusi dan menaikkan pengaduan ibu Deli ke tim verifikasi kasus agar bisa dibahas bersama dengan komisioner. Kemudian akan dicarikan mitra di Bengkulu yang menangani kasus Bu Deli,’’ kata Aces, staf UPR KPA.

Pada 6 Juni 2024 Deli memenuhi panggilan Pengadilan Negeri (PN) Mukomuko untuk untuk proses sidang pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ia diancam dengan pasal 351 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana surat dakwaan JPU Nomor: REG.PERKARA PDM-15/MM/05/2024.

Selama proses sidang, Deli Lesyanti yang saat ini juga mengandung sering mengalami sakit perut pada bagian rahim dan pinggang. Ia juga mengalami sakit kepala, tubuh pegal-pegal dan meriang hingga menyebabkan tidak dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.

Ibu dari tiga orang anak ini dilanda stres akibat dari proses hukum yang saat ini dihadapi. Deli harus menghadiri sidang hampir setiap minggu dengan jarak tempuh 112 Km dalam kondisi hamil muda. Ia juga harus merental mobil setiap berangkat ke Pengadilan Negeri Mukomuko dengan mengeluarkan biaya Rp350.000 ditambah bensin Rp200.000.

Setiap agenda persidangan Deli berangkat ke pengadilan pagi hari dan membawa bekal makanan dari rumah untuk menghemat biaya dan sampai dirumah sekitar pukul 18.15 wib dan masih mengurus rumah dan 3 orang anaknya yang masih kecil.

Sedangkan penghasilan dari suaminya sebagai nelayan sangat sulit, belum lagi ketika cuaca tidak mendukung. Untuk membantu suami memenuhi kebutuhan keluarganya Deli berjualan makanan dengan keuntungan Rp100 ribu per hari.

Pada 13 Juni 2024 Deli Lesyanti dihadirkan sebagai terdakwa menghadiri sidang kembali di PN Mukomuko. Ia menyampaikan keberatan atas surat dakwaan JPU. Dari awal Deli membacakan surat keberatan di hadapan hakim menangis tersedu lantaran apa yang didakwakan terhadapnya berbanding terbalik dengan fakta yang dialaminya. Justru dirinyalah yang dikeroyok oleh sembilan perempuan tenaga kerja harian lepas (TKHL) PT DDP.

“Saya akan terus berupaya mencari keadilan demi perjuangan saya. Walaupun saya cukup khawatir akan mengalami keguguran kedua kalinya,” ucap Deli.

Sementara itu Ketua Kanopi Hijau Indonesia, Ali Akbar mengatakan bahwa korban di tingkat petani terus bertambah akibat dari konflik antara petani dengan PT DDP.

Konlik agraria yang tidak kunjung tuntas ini membuat korban di tingkat petani Mukomuko mencapai 34 orang dalam dua tahun terakhir.

“Mereka dikriminalisasi karena memperjuangkan haknya untuk mendapatkan tanah,” kata Ali.

Ia menilai, negara harus hadir segera untuk menyelesaikan persoalan ini. Jika tidak ada upaya penyelesaian, baik dit tingkat kabupaten sampai nasional maka dikhawatirkan konflik akan semakin parah.