Bengkulu (Antaranews Bengkulu) – Para petani di Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Bengkulu untuk mengawasi proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara berkapasitas 2 x 100 Megawatt di kompleks Pelabuhan Pulau Baai karena diduga sudah mengubah bentang alam areal pertanian mereka.

“Sejak konstruksi berlangsung, air tanah dikuras saat memasang paku bumi sehingga areal pertanian kami kekeringan bila tidak hujan,” kata Wilkan, petani palawija di Kelurahan Teluk Sepang, Minggu.

Ia mengatakan sebelum proyek tersebut berjalan, para petani yang mengolah sekitar 20 hektare areal pertanian tanaman palawija di wilayah itu dapat menikmati hasil pertanian dengan baik.

Namun, sejak proyek konstruksi PLTU dimulai dalam setahun terakhir, sejumlah parit yang menjadi saluran air alami ditutup sehingga areal pertanian rawan kebanjiran.

” Panas beberapa hari tanah sangat kering tapi kalau hujan satu jam saja sudah banjir, sebelumnya tidak pernah terjadi,” ucapnya.

Dia berharap pemerintah daerah, terutama DLHK yang mengawasi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dapat turun ke lapangan untuk memeriksa proses konstruksi yang sedang berlangsung.

Perubahan bentang alam tersebut membuat petani dirugikan akibat banjir parah yang sudah dua kali melanda membuat mereka gagal tanam, tutur mereka.

Padahal sebelumnya, para petani dapat menikmati hasil panen komoditas palawija dari areal tersebut untuk menghidupi anggota keluarga dan membiayai sekolah anak mereka.

Jauhar petani lainnya mencontohkan pendapatan dari satu kali proses tanam cabai dengan luas kurang dari satu hektare dapat mengantongi pendapatan Rp40 juta.

Karena banjir besar dua kali berturut-turut tanaman cabai yang masih kecil terendam air dan mati, katanya.

Padahal, ia sudah mengeluarkan modal yang cukup banyak untuk pengolahan tanah, pembelian bibit, mulsa dan lainnya.

Proyek PLTU batu bara di Kelurahan Teluk Sepang mulai dibangun menggunakan dana investasi asal China pada awal 2017 dan direncanakan menghasilkan listrik pada 2019.

Sumber : https://bengkulu.antaranews.com/berita/50804/petani-minta-dlhk-awasi-proyek-pltu-bengkulu