Gajah Makmur,

Solusi Cerdas Pemenuhan Kebutuhan listrik Rakyat

Oleh: Kanopi Bengkulu

Gajah Makmur adalah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan hutan produksi Air Rami kabupaten Mukomuko Propinsi Bengkulu. Desa dengan total luasan 79,48 km2 menjadi wilayah tempatan 300 KK. Secara geografis terkepung oleh perusahaan sawit PT Alno dan PT Daria Dharma Pratama (DDP). Mata pencarian mereka adalah berkebun sawit dan karet serta menjadi buruh di perusahaan.

Sejak tahun 1983 berdasarkan proyek transmigrasi, mereka di tempatkan di dalam rimba dengan minim fasilitas, minim pengetahuan serta ketidak tauan tentang kondisi wilayah mereka sendiri, Mereka yang pada awalnya adalah petani palawija mencoba mengais hidup dengan mencoba menanam hortikultura, akan tetapi karena tanah yang berbeda dengan jawa, serta hama babi yang menggila, upaya ini kandas ditengah jalan, selanjutnya mereka berusaha dengan tanaman keras seperti karet dan sawit. Butuh perjuangan yang luar biasa sampai akhirnya mereka berhasil.

Tahun 2015 melalui pendanaan APBN, ESDAM menjalankan proyek pembangunan listrik energy matahari dengan nilai proyek tidak kurang dari 6 M, pendanaan ini sendiri selain digunakan untuk infrastruktur juga diperuntukan untuk memastikan listrik dapat terang di gajah makmur selama satu tahun. Pada awal tahun 2017, listrik gajah makmur menyala dan menerangi 250 unit rumah serta beberapa fasilitas umum seperti Masjid dan puskesmas.

Dari daya 50 KV yang sanggup disuplay oleh PLTS, sekarang ini baru digunakan sekitar 10 KV dengan pembagian masing-masing rumah mendapatkan 300 watt serta fasilitas umum mendapat 600 watt. Jumlah ini ditetapkan dengan alasan karena semua sumber daya baru berfungsi dan diperlukan beberapa waktu untuk percobaan serta menjaga semua peralatan untuk tidak bekerja optimal secara langsung.

Model kelola sejak listrik menyala sampai dengan awal tahun 2018, masih dilaksanakan dengan pendekatan administrasi desa. Dimana setiap rumah tangga berdasarkan kesepakatan diwajibkan membayar 30.000 rupiah/bln. Belum ada scenario dalam terpadu yang dijalankan dalam rangka memastikan keberlanjutan PLTS. Namun dilihat dari animo masyarakat yang berkeinginan agar listriknya tetap menyala, beberapa scenario seperti membangun koperasi listrik, sudah mulai menjadi wacana.

Kedepan masih diperlukan intervensi dari pihak lain seperti pemerintah kabupaten Mukomuko dan pusat listrik Negara guna mendampingi warga dengan tujuan memastikan bahwa PLTS yang sudah dibangun dengan dana APBN ini dapat terus berjalan secara optimal.

Elektrifikasi propinsi Bengkulu sekitar 85%, dimana desa-desa yang belum teraliri listrik berada di kawasan yang jauh dari jalur listrik. Total desa yang belum teraliri listrik di propinsi Bengkulu sekarang ini berjumlah 62 (ESDM prop tahun 2016) dan hampir semuanya berada di pelosok wilayah yang sulit dijangkau. Kedepan diperlukan niat baik serta promosi kepada pihak luar bahwa untuk pemenuhan kebutuhan listrik cukup dengan hanya menggunakan PLTS serta potensi sumber pembangkit yang sudah tersedia dimasing-masing wilayah.