Bengkulu, Bengkulu Ekspress – Masyarakat Kelurahan Teluk Sepang, Kota Bengkulu mendirikan posko sebagai wadah konsolidasi memperjuangkan lingkungan sehat dan nyaman dari ancaman proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, yang kini sedang dibangun di kawasan Pulau Baai dalam kawasan Kelurahan Teluk Sepang.

Tokoh Masyarakat Kelurahan Teluk Sepang, Sakirin, saat peletakan tiang posko tersebut, di Kelurahan Teluk Sepang, Jumat (13/07/18) menuturkan, “Posko ini sebagai wadah untuk berkumpul, berdiskusi dan konsolidasi masyarakat untuk mengatasi ancaman bahaya PLTU batu bara yang mengancam permukiman kami.

Dia menuturkan, warga setempat sudah paham tentang dampak buruk PLTU batu bara, terutama pencemaran udara yang akan mengancam permukiman mereka. Apalagi, jarak proyek PLTU batu bara berkapasitas 2 x 100 Megawatt (MW) itu berdiri hanya 500 meter dari permukiman warga Kelurahan Teluk Sepang.

“Sejak awal kami sudah menolak proyek ini dengan alasan yang sangat jelas kami ingin hidup sehat tidak terpapar debu pembakaran batu bara,” ucapnya.

Penolakan warga bahkan ditegaskan dengan pernyataan dan tanda tangan 700 kepala keluarga di keluhan itu, serta unjuk rasa penolakan proyek saat peletakan batu pertama proyek yang berlangsung pada 25 Oktober 2016.

Kini kata Sakirin, setahun sudah berlalu sejak penolakan masyarakat itu diredam aparat kepolisian. Meski begitu, sebenarnya penolakan masyarakat atas proyek itu tetap berlanjut hingga saat ini. Dengan pertimbangan debu PLTU bisa merusak tanaman palawija dan mencemari laut yang menjadi tumpuan nelayan menangkap ikan.

“Kami bakal mengevaluasi lagi dampak proyek itu. Karena petani di sekitar proyek sudah mengeluh karena banjir merendam areal pertanian sejak konstruksi dimulai,” kata dia.

Warga lainnya, Edward mengatakan sudah melihat langsung dampak PLTU batu bara di Labuan, Provinsi Banten Di sana kesehatan masyarakat, serta ruang kelola seperti areal pertanian dan pesisir menjadi korban dari pencemaran akibat PLTU batu bara.

Atas pendirian posko itu, kata dia, masyarakat Teluk Sepang, sama sekali tidak anti terhadap pembangunan, terutama sumber energi listrik, namun penggunaan batu bara justru bisa menyengsarakan rakyat.

“Banyak sumber listrik lain yang tidak mengancam keselamatan kami seperti listrik tenaga angin atau tenaga surya,” kata Edward.

Pembangunan konstruksi proyek PLTU batu bara berkapasitas 200 MW di Kelurahan Teluk Sepang dimulai pada awal 2017 dan ditargetkan beroperasi pada 2019/2020.

Pemerintah menargetkan proyek energi yang didanai investasi dari China tersebut menambah daya listrik untuk Provinsi Bengkulu, terutama mendukung kawasan ekonomi khusus di Pulau Baai.

Saat berita ini diturunkan bengkulekspress.com sedang mengupayakan mendapatkan konfirmasi dari pengelola proyek PLTU Batu Bara dan pejabat Pemerintah Provinsi Bengkulu selaku pihak yang memiliki program pembangunan PLTU Batu Bara di kawasan Pulau Baai, Kota Bengkulu tersebut.

Sumber : https://bengkuluekspress.com/warga-teluk-sepang-dirikan-posko-perjuangan-lingkungan-sehat/